Friday, 30 March 2007

Seminar Poliolefin - Ibu-ibu, ayo coba...

Sabtu Ceria, 31 maret 2007

Kemarin akuh ikutan seminar, tentang poliolefin. Bagus bangeud. Itu adalah nama bahan kimia dari keluarga polimer. Dengan nama asal polietilena dan poliropilena serta variannya. Poliolefin intinya adalah bahan dasar pembuat plastik yang bervariasi, dari mulai keras sampai lunak. dari mulai transparan sampai buram. nah, si poliolefin inih terbuat dari gas alam semacam elpiji dsb. Bayangin, dari gas jadi plastik. Lalu, ternyata memang ada batas pemakaian ulang untuk wadah-wadah yang terbuat dari plastik. karena ada batasan waktu bagi bahan di dalamnya untuk terurai dan mengakibatkan bahaya penggunaan wadah tersebut pada akhirnya. Terus, ada juga tema tentang lingkungan hidup. bahwa limbah domestik yang asalnya dari dapur para ibu tidak bisa dijadikan bahan kasus ke pengadilan. jika ada hukum tentang hal itu, duh... berapa juta ibu-ibu protes tuh?

Jadi yaa, ibu-ibu. Jangan sembarangan pake botol plastik bekas air mineral. Engga ganti-ganti. Dan hematlah pemakaian bahan bakar. Serta, marilah kita sama-sama menjaga lingkungan hidup sekitar kita.

SAVE OUR EARTH - SELAMATKAN BUMI KITA.


dududu, pada dasarnya Qmia itu berguna bagi hidup dan kehidupan dan keseharian.


Baiklah. saia ingin segera lulus. Karena apa? saia ingin segera membuat kandang ayam. Kasihan anak-anak ayamkuh, tidak punya kandang berkeliaran kesana kemarih dan kehujanan. Anak-anak ayamku, cepatlah besar dan harus selalu baik dengan para kucing yaa. Oh, jadi mainannya kucing dan ayam nih? dududu, istilah kucing dan ayam untuk komunitas tertentu ADALAH TOP SECRET. hohoho, dari plastik jadi biacara tentang ayam dan kucing? maklum lagh, namanya juga ibu-ibu...

Thursday, 29 March 2007

Kamis 29 maret 2007


Selalu SAJAH. Tentang CINTAH. abisnya tadi abis makan siang sambil konsultasi dengan doktor cinta si reporter blognya_si_waremz tea... dan AKAN selalu ada anomali dalam setiap apa pun... dududu...meskipun kebanyakan wanita akan luluh terhadap pria yang menyukainya, ada juga ANOMALI bahwa ada pria yang akhirnya menyukai wanita yang menyayanginya... Cinta, Sayang, Suka, segala RASA. apa itu? entah? aku? entah? kenapa? entah...

jika ada wanita menyukai pria, tetapi justru wanita ituh yang berselingkuh??? nah yaa... itu sih derita lu jeung, HAHAHA...





.

SEE deep INSIDE me,,, AND y0u WiLL SEE - i'm not CRAZY,,,JUST a LITTLe UNWELL

Rate this Photo: *****

ini adalah gambar akuh pas kecil. si mamah nampaknyah ingin punya anak cowo. jadi ajah gini nih, nama putri kelakuan minus... dududu...

habis melakukan banyak hal bodoh, tapi senang. campur aduk semua rasa.


aku bahkan tak tahu, kenapa aku lakukan itu semua? untuk apa? untuk siapa? tidak, aku HANYA INGIN LAKUKAN apa yang INGIN KU LAKUKAN... even though the world against me stiLL... i believe in God, that's why i feel so alive...

Saturday, 24 March 2007

Ternyata,,, AKU TADI FITNEH. secara blogger sulit sekali dibuka...


Uhh,, cape. banyak bangeud yang dikerjakan. aku dan duniaku. begitu hiruk pikuk dan indah. aku dan semangatku... SEMANGAT !!!

oia, hari inih ada yang berulangtahun. jadi, siapa gerangan dirinya?! entah. aku tak tahu. HANYA TUHANKU LAH YANG TAHU. DIA memiliki aku, dan juga dirinya. jadi, aku kembalikan pada -NYA sajah...


semangat di akhir maret 24 tahun 2007...


teman2ku semua, aku pada dasarnya sayang kalian KoQ
Terimakasih...

Dear diary. Hari ini selasa 20 Maret 2007. Mulai deh, bengong itu kadang bisa manfaat bisa juga ganggu. Malam hari di kosan setelah padatnya aktivitas di siang hari. Lelah mengundang kesedihan. Apa pula yang sedang aku sedihkan?
Entah kenapa hari ini, malam ini, gue nangis. Seperti biasa. Satu-satunya hal yang membuat gue seperti cewek pada umumnya adalah gue suka dan bahkan hobi menangis.
Gue tadi lagi dengerin lagu di kompi pas kebetulan terputarlah yang melow-melow, terus sambil liat-liat poto-poto jadul (jaman dulu). Jaman MaBim pisan. Biasa ya, MaBim gitu. Mabim itu kepanjangan dari Masa Bimbingan. Waktu gue dulu nama MaBim-nya reaksi kimia. Indah untuk dikenang, haram jadah buwat dikenang. Pastinya itu jargon yang sudah melegenda! Tapi entah juga, siapa yang sebenernya mencetuskan kalimat itu pertama kali? Mendadak sedih karena sambil melihat-lihat poto itu gue jadi inget temen-temen gue yang mao pada kolokium, sibuk daftar sana-sini urus ini itu. Udah daftar kolokium di jurusan gue kimia UNPAD berarti siap-siap jadi sarjana. Tapi bukan berarti gue engga suka dengan keberhasilan mereka. Justru. Klise yah kedengerannya, tapi gue ikut seneng dong dengan kesuksesan orang-orang yang gue sayangi. Iri jelas ada, tetapi itu lebih ke arah perasaan gue yang ikut terpacu dan ingin lekas menyusul mereka mendulang sukses. Walaupun selesai kuliah bukan berarti sukses yang sesungguhnya, tetapi setidaknya satu tahapan dalam hidup yaitu melanjutkan studi di jenjang yang lebih tinggi telah selesai dilaksanakan. Tidak semua orang beruntung bisa kuliah tho?





.

siap2 mau bunuh diri??? argh... DEPRESI AKUT STRESS TERPENDAm


putri - posted 8/3/2007
Percobaan Bunuh diri YANG TIDAK JADI KARENA harus STRIVE SURVIVE AND STRUGGLE

www.friendster.com/duniaputri

Gue sedih inget dengan semua yang udah berlalu, where the hell i’ve been through? Sedih. Yupz. Nangis dong! Dan, seperti biasa. Kalau lagi sedih, paling enak tuh minta perhatian ama cowo-cowo. Biar dipedulikan begitu. Jadi tadi gue SMS DJ-Ay(a)Z – baca d’JayAz – si makhluk narsis, dan Ochie – si botak lintas generasi – si makhluk childish. Sama-sama dengan rima S kan tuh. By the way anyway on the way bus way, pada tau istilah rima kan? Itu lho yang ada dalam puisi atawa pantun. Dan mereka balas SMS gue yang bikin spirit gue balik lagi. Sweet friends of mine, huhuhu.
Oh iya, lupa balas budi ke Dinnyo dan Liliput-kecil. Mereka adalah anak-anak kosan gue yang juga so sweet. Jadi ceritanya, pas gue lagi mellow gitu eh pada nongol tuh bocah dua. Ketangkap basah deh. Ya iya lah, orang lagi nangis juga! Buka pintu, mereka agak terkejut dengan sisa-sisa lelehan air mata di pipi gue dan mata gue yang memerah. Dan gue beneran jadi nangis lagi di bahu si Dinnyo, duh mellow bener gue?!
Eits, bukan berarti gue lupa ama temen2 gue yang lain. Ada Gigi si cintahkuwh, hehe. Bukan berarti gue homo yee! Terus ada Idjowh pastinya. Kembar siam ceunah. Terus Bebbie, always. Juga Dinchews yang selalu setia menampung gue di kamarnya yang segede alaihim.
Tapi yang engga gue sebutin bukan berarti bukan temen gue. Cuma mungkin intensitas pertemanan alias kedekatannya yang semakin berkurang. Warm dengan blognya, cinta deh baca tulisan hasil liputan reporter sableng Si_Waremz. Pokoknya semua anak Kimia 2002 baik yang masih atau yang sudah mendahului – eksist or not. Maksudnya mendahului? Ya udah lulus atau belum kayak gue gitu. I miss all the moment guys. Plus buat teman lintas generasi, Lusieztah my sista. Dan teman-teman lintas generasi lainnya, atas dan bawah. Termasuk teman-teman lintas alam, beda jurusan fakultas dan universitas.
Juga buat teman-teman gue dari masa silam. Nink, Gayuh, mba In. Juga seisi genk 1.8 dan pasukan huru-hara dari 2.5 dan pastinya gerombolan 3ipa3. Dan Rekha the sexy girl, sirik gue ama bodi die... dan Sabam_Gelebug dan IfriT da DeviLLe. Juga rekan baru gue yaitu Ucup a.k.a. Abi alias lagi tjhoepy_riweuh. Andi? Ah, dia mah udah jadi adek gue. Jadi bukan kategori temen lagi. Semakin mundur ke SMP. Lalu ke SD. Lalu TK. Termasuk engga ya teman-teman di RS tempat gue lahir? Dan teman-teman dari masa yang akan datang.
Untuk temen-temen kosan gue dari jaman awal sampai dengan sekarang. Firah si ibu bawel. Wince Nurfie Dewo Wiwita Donna, termasuk ibu Santi. Teh Aul yang maniak bola. Adek Tantri dan Adek Rista, mba Wati yang saingan dugem’s songs with me in da kosan. Gila bareng di kosan. Walaupun kadang suka pengen hidup di kosan campur biar bisa ngecengin cowo-cowo (teuteuph ya???), but it’s really fun to be a girl guys! Senangnya diriku. Jadi cewe itu menyenangkan. Sedikit berbelok tema, tak apa lah. Walaupun awal tulisan ini dibuat karena gue nangis.
Buat temen-temen gue yang engga kesebut namanya, maapin. Bukannya pilih kasih. Protes ajah yah... Untuk kalian semua yang kusayangi.
Dan aku pun menangis lagi. Bukan aku ingin kalian semua mempedulikanku wahai teman-temanku. Aku ingin minta maaf jika aku justru tidak ada di saat ada di antara kalian yang membutuhkan seseorang, dan aku bisa menjadi seseorang itu. Aku menangis dalam haru dan suka cita. Aku harap kalian membaca tulisanku ini. Aku sangat ingin berterimakasih pada kalian, jika aku selama ini lupa berterimakasih. Terimakasih kalian telah menjadi teman-temanku. Menjadi bagian dari hidupku. Terimakasih Tuhan, KAU mengenalkanku pada mereka – teman-temanku. Tolong jaga mereka Tuhan. Ku kembalikan mereka pada-MU Sang Pemilik Semesta Raya. Terimakasih.
Tertanda : Herlinda Putri
www.duniaputri.blogspot.com
www.putri-indonesia.blogs.friendster.com

Anak-anak Bukan untuk Gengsi Orang Tua Belaka


Awalnya, saya membaca tulisan Dwinda Nafisah N. di Rubrik Mimbar Akademik, suplemen Kampus (“PR”,15/3). Sejauh pemahaman saya, inti tulisan beliau adalah himbauan untuk menanamkan nasionalisme pada anak lewat lagu anak-anak. Dan bukannya tanpa sebab menanamkan nasionalisme sejak dini. Selagi anak-anak kecil belum mengerti apa-apa. Begitu katanya. Dan saya setuju.

Anak-anak jaman sekarang cenderung lebih cepat dewasa. Adalah ide yang baik untuk mencekoki anak agar bisa tumbuh rasa nasionalisme dalam dirinya. Namun, siapa yang menyebabkan anak-anak itu menjadi dewasa sebelum waktunya? Orang dewasa tentu berperan serta dalam hal ini. Oke, mungkin bukan untuk hal negatif saja. Tetapi orang-orang dewasa yang merupakan orang tua dari para anak kecil itulah yang justru tanpa sadar membuat anak-anak mereka melakukan hal-hal yang mereka pikir baik. Bagus memang jika sedari kecil anak diajari bermacam pelajaran. Dari mulai les bahasa Inggris, les musik, sampai les menari. Anak tentu belum tahu apa manfaat pelajaran-pelajaran itu, jadi saya pikir paksaan itu bagus juga. Yang saya prihatinkan jika para orang tua itu justru menjadikannya sebagai ajang persaingan dengan orang tua lainnya. Ketika tiba saatnya si anak semakin besar dan bisa protes pada orang tuanya, orang tua akan berkata ”Tahu apa kalian, kami para orang tua jelas lebih tahu daripada kalian”.

Contohnya saya. Ibu saya adalah guru bahasa Inggris rumahan. Saya belajar pada beliau dari kelas 4 SD karena ibu saya pikir ”malu-maluin dong, masa ibunya guru bahasa Inggris anaknya tidak bisa”. Meskipun setengah hati belajar karena terpaksa, akhirnya saya merasakan manfaat didikan paksa ibu saya itu saat duduk di bangku SMU kelas 2.

Begitu pula ketika saya kuliah. Di pilihan SPMB kedua saya, ayah saya dan teman beliau menyarankan dengan sedikit keharusan agar saya memilih jurusan kimia. Dari SMU saya sudah didoktrin bahwa IPA adalah pelajaran berguna. Berbeda dengan ilmu sosial yang bisa dipelajari sendiri, begitu menurut ayah saya. Sebab ayah saya sendiri memiliki latar belakang akademis dari FISIP (Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Pemerintahan).

Ternyata, keterbatasan kemampuan saya semenjak SMU semakin terlihat di perkuliahan. Saat ini, saya sedang menempuh tahun kelima saya kuliah. Dan saya sudah laporan pada orang tua saya di awal tahun keempat kuliah, bahwa saya kemungkinan besar akan telat. Untung bagi saya, bahwa memang orang tua saya adalah orang tua yang demokratis. Mereka menerima kenyataan ini, walaupun tetap saja bertanya ”Kamu kapan menyelesaikan studi, nak?”. Mereka sadar telah memaksakan kehendak, sekaligus juga berusaha membangkitkan kesadaran saya bahwa apa yang saya pelajari selama ini pastilah akan berguna kelak. Walaupun kadang mereka sering bercanda dengan saya bahkan menjurus serius, ketika membandingkan saya dengan anak-anak tetangga atau anak teman-teman mereka.

Demi gengsi, itulah sebabnya anak-anak dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Tidak untuk saya, karena sesering itu pula orang tua saya menjelaskan bahwa mereka tidak bermaksud membandingkan. Hanya mencoba membuat saya bisa lebih memahami dan mencontoh kiat-kiat yang membuat orang-orang lebih berhasil.

Faktanya adalah, saya sendiri melihat bahwa orang tua saya pun memiliki kesalahan yaitu mereka berpikir apa yang terbaik untuk anaknya tanpa melihat apakah itu memang baik untuk sang anak atau tidak. Dari segi akademis, IPA tidak melulu baik dan ilmu sosial pun tidak selalu jelek. Maksudnya, ini secara garis besar. Seperti saya pernah baca di suatu koran entah apa dan kapan, ”pantas saja negeri ini tak mampu memunculkan pelukis besar sebanyak negara-negara Eropa sana.”

Memang betul, orang tua selalu memberikan yang terbaik untuk anaknya. Namun, ketika gengsi sebagai orang tua yang berbicara, maka anak-anak hanyalah alat. Alat untuk ajang adu gengsi kehebatan sebagai orang tua.

Sunday, 18 March 2007

Jadi WTS – siapa takut ?!

Ada ide bagus demi melihat tulisan gue pribadi yang judulnya “PNS, Guru, dan Pem-Red Playboy VS Moral ??? Please deh?! Kerja apa dong gue?”. Gue pikir gue cewek dan suka, jadi gue mau aja jadi WTS. Untuk yang mikirnya udah aneh-aneh, sorry yee?! Gue udah bikin kalian semua mikir yang aneh-aneh. Hahaha! WTS itu singkatan dari Wartawan Tanpa Suratkabar. Itu istilah gue dengar pas lagi di acara Pampers alias Pameran dan Seminar Pers, yang diadakan di PSBJ Kampus UNPAD Jatinangor.

.




.

Engga Semua Yang Lo Liat ITU BENER? Yang BENER yaa CUMA GUWE

ada dalamFS. kalu engga ada yaa berarti sudah dibuang ;p

Gue cewek yang suka menulis. Walaupun tulisan gue kadang suka pada ngaco dan engga mutu, tapi kalau lagi insyaf mah ada juga tulisan gue yang katanya sih oke. Ini baru katanya lho! Kata siapa? Waduh entah, tampaknya memang tidak bisa dipertanggungjawabkan juga sih?! Abisnya, kata mas Jatmiko dari Jawa Pos, syarat untuk jadi wartawan di media dia adalah memiliki IPK minimal 3. Yowez, aku yo mesti liwat saja!!! Sulit memang hidup di jaman sekarang. Apalagi mengingat kestabilan mental gue patut dipertanyakan. Jaman semakin edan, dan gue sendiri alhamdulillah sudah edan dari sononya. Howahahaha!!! Sudah sudah, jadi WTS itu enak koq. Engga ada date line dan bebas berkreasi dengan ide sendiri. Jual diri sajalah di blog. Jual diri? Iya, tulisan itu juga kan bagian dari diri gue. Tapi, kalau ada yang mau jadi penyokong dana buat gue? Yasu kalau gitu. Ya sudah, memang WTS koq. Duh, lagi-lagi tobat gue?!!! Mari kita menjadi WTS dan berdayajual tinggi dan pajanglah diri di blog masing-masing.

Ditulis pada 18 Maret 2007 waktu setempat. Oleh : Penulis


Situs yang berisi tulisan gue yaitu di :

www.duniaputri.blogspot.com

www.putri-indonesia.blogs.friendster.com

Sunyi Sepi Sendiri

Tolong aku...aku takut
Tolong aku...aku takut
Tolong aku,,,aku masih takut
Tuhan tolong aku...
Tuhan aku ketakutan.
Aku kesepian.
Karena aku sendirian.
Dan aku mulai ketakutan.
Di dalam kesunyian.

Sabtu malam pukul 22.00 Waktu Bagian Komputer Kamar Kosan, 17 Maret 2007

Puisi ini aku dedikasikan untuk diriku sendiri. Ketika aku merasa aku beriman kepada Allah SWT. Dalam iman dan Islam. Kenapa aku mesti takut TIDAK ADA YANG MENDENGARKU atau PEDULI padaku. Aku takut, tetapi aku tidak takut pada Tuhanku. Jika aku takut pada Tuhanku, maka kepada siapa lagi aku dapat memohon perlindungan dan bantuan. Sang Maha Kasih – Ar Rahman dan Ar Rahim – tidak selalu memberi apa yang kuminta, tetapi DIA memberikan apa yang kubutuhkan. Di saat aku bahkan tidak tahu, apa yang sebenarnya yang aku butuhkan. Aku tidak butuh buku doa yang berisi doa-doa dalam bahasa Arab. Buku seperti itu mirip buku mantra. Aku berdoa dengan petunjuk buku dan ketika aku butuh? Tidak. Aku berdoa pada Tuhanku karena aku ingin bercerita pada-NYA. Bukan semata keluh kesahku. Tetapi segala kebaikan yang telah kudapat, dan bersyukur bahwa aku masih bisa mengalami penderitaan sebagai bukti bahwa aku masih hidup dan bernafas. Allahu Akbar – Allah Ta’ Ala Maha Besar. Allah Maha Mengetahui. Segala Puji bagi Allah SWT. Segala kebenaran juga HANYA milik Allah SWT.
Dan untuk penganut ajaran dan kepercayaan selain Islam, saya sarankan untuk menyerahkan diri dalam perlindungan Tuhan sesuai agama dan kepercayaan. Tuhan yang Maha Mengetahui segala kejadian.
Jangan Suu’ Dzhan dengan Pemerintah dong !!!

Ceritanya ini hari, sabtu 17 maret 2007 gue ikutan seminar berjudul ”Pameran dan Seminar Pers Nasional 2007”. Pembicaranya keren-keren walaupun gue kagak kenal. Sebagai anak ilmu sayap kiri alias eksakta (kalau di kampus UNPAD, wajar wilayah kampus eksakta itu gue sebut jalur ”sayap kiri” karena secara struktur letak kampus kimia gue – dari depan gerbang BUKAN PANGDAM – berada di sebelah kiri), gue engga gaul sama para pembicara itu. Entah karena gue buta berita dan politik serta APATIS terhadap kondisi negeri tercinta.
Inti dari pembicaraan yang gue tangkap adalah pers berperan dalam fungsi sebagai kontrol pemerintahan. Itu dari para pembicara yang bergiat di dunia pers dan para jurnalis entah yang gue engga ngerti. Sedangkan pembicara dari pemerintahan sendiri Bapak Suripto, SH juga ada. Nah, inti yang gue tangkap dari pembicaraan bapak yang bekerja sebagai Anggota Komisi I DPR RI itulah yang gue jadikan judul. Tulisan ini juga sekaligus untuk menjawab pertanyaan retoris dalam tulisan gue sendiri yang ceritanya gue kirim ke media online. Gue rasa entah juga tulisan gue dimuat apa kagak. Kurang meaning gue rasa. Judul tulisan gue adalah ”Pemerintah NGAPAIN AJA? )*”
Media partner dari acara itu salah satunya dari koran TEMPO. Para peserta dapat jatah koran gratis gitu. Dari Koran TEMPO lah tentu. Di halaman A7 ada tulisan dengan judul ”Biaya Outbond Dewan Rp 1,2 Milyar” dan kalimat pembukanya itu berbunyi ”Cara legal mengisap dan menghabiskan uang rakyat.” dan intisari bacaan yang gue tangkap adalah TERANG AJA SEMUA PADA PENGEN JADI POLITISI DAN PEJABAT, duitnya kenceng bo?! Tapi tetap saja, siapa yang bunyi nyaring tetapi tidak berisi pada akhirnya cuma menjadi sampah kaleng kosong yang mengalami korosi. Tau engga korosi? KARAT. Karena gue akui sebagai mahasiswa yang BUTA POLITIK DAN CUMA TAU HURA-HURA, gue engga ngerti kenapa semua mempermasalahkan hal yang itu-itu aja. Engga pers yang katanya mengontrol, engga pula pemerintah yang menjalankan negara, semua pada berantem gue rasa.
Dan kata Bu Dyah salah satu pembicara yang lain dalam seminar itu (ini dalam rangkaian acara pada sesi kedua), para konsumen yang membaca atau menonton suatu media harusnya bisa menjadi cerdas dalam menanggapi dan menyikapi segala informasi yang tersedia. Dan gue jadi mikir sendiri ”sebenernya gue sebagai konsumen yang engga cerdas – karena memang gue engga pinter, kuliah saat ini memasuki usia 5 tahun dan IPK masih di bawah 2,75 – atau memang media massa dan orang-orang lain yang kelewat pinter?”.
Dalam seminar itu, ada pembicara yang mengatakan bahwa seharusnya hak perlindungan terhadap para konsumen yang tidak bisa melindungi dirinya sendiri tetap ada. Si pembicara adalah Danrivanto B. dari AJI (Aliansi Jurnalis Independen – kalau tidak salah begitu singkatannya?). Contoh sederhana adalah di luar negeri anak di bawah umur BENAR-BENAR tidak bisa mendapatkan minuman alkohol dan bacaan semacam majalah Playboy. Tidak seperti di Indonesia yang ternyata sudah jadi negara peringkat ke 6 di bidang pornografi. Padahal mayoritas masyarakat Indonesia beragama Islam dan katanya menjunjung tinggi norma dan adat ketimuran.
Nah, sekali lagi ini ada bunyi nah! Berarti benar, gue memang TIDAK CERDAS. Sebab gue juga engga ngerti kenapa??? Gue hanyalah mahasiswa kupu-kupu yang gemar hura-hura, maksudnya kupu-kupu yaitu Kuliah Pulang Kuliah Pulang dan diselingi kegiatan hura-hura yang sifatnya menghilangkan stress yang menggila dikejar target menjadi sarjana Kimia. Gue pernah bikin tulisan pada 14 Maret 2007 yang sebenarnya memuat kekhawatiran pribadi tentang dunia kerja setelah gue lulus. Dengan fakta bahwa gue TIDAK PINTAR. Judul tulisan gue adalah ”PNS, Guru, dan Pem-Red Playboy VS Moral ??? Please deh?! Kerja apa dong gue?” )** dan seperti biasa gue kirim juga via email. Dan naga-naganya nih yee, tulisan aye kagak dimuat noh? Kagak ape-ape dah!
Jadi sebenarnya apa yang gue pikirin sebenernya nyampe juga dan bahkan kepikiran juga sebenarnya dengan orang-orang besar di atas gue itu. Cuma sialnya gue kan HANYA RAKYAT BIASA. Kadang engga penting juga kan omongan rakyat jelata itu? Mangkannya, maka dari itu oleh sebab itu karenanya, Jangan Suu’ Dzhan dengan Pemerintah dong !!! yang dipikirkan pemerintah itu banyak dan kompleks. Sedangkan rakyat jelata semacam gue ini ya engga banyak-banyak amat dan engga kompleks-kompleks amat.
Dua tulisan terdahulu gue yaitu di )* dan )** akhirnya gue muat di blog pribadi gue. Bisa dibaca di situs www.duniaputri.blogspot.com atau cek ke www.putri-indonesia.blogs.friendster.com sekalian bisa berkomentar langsung.
Jadi apa yang bisa disimpulkan dengan tulisan gue adalah semua saling terkait seperti suatu ekosistem. Dan sebaiknya simbiosis yang terjadi adalah mutualisme, yaitu saling menguntungkan. Antara pemerintah dan orang-orang pers, serta para konsumen yaitu pembaca dan pendengar dan penonton.
PNS, Guru, dan Pem-Red Playboy VS Moral ??? Please deh?! Kerja apa dong gue?

Sumpah, kayaknya ini beneran curhat deh. Ceritanya sih, jadi mahasiswa tingkat akhir yang sibuk dengan urusan kampus bikin mikir. Mau ngapain setelah lulus? Kerja pastinya. Kerja apa? Kepengennya buka home industry dengan catatan semoga ada modal, baik juga kan bisa bantu kasih lapangan kerja ama orang lain. Serasa orang baik dan bermoral.
Bicara tentang kerjaan, babeh gue yang kerja sebagai PNS di BKKBN – sekarang namanya ganti jadi Dinas Kependudukan entah – selalu wanti-wanti gini, “Nak, kamu lulus kuliah setidaknya dapat IPK 2,75 ya jadi kamu bisa menjadi pegawai negeri seperti papa.” Kenapa beliau bilang gitu? Karena beliau prihatin melihat anak perempuan satu-satunya ini sekolahnya kok susah banget. Ya Allah papa, Uthie juga bingung. Perasaan belajar udah oye, tugas dikerjain, absenan lengkap. Lha kok nilai teuteup amburadul ya Pap?
Akhirnya gue curhat ama emak gue. “Mama, Uthie males jadi PNS.” Padahal mikir juga, apa gue bego banget? Bahkan untuk jadi PNS pun susah rasanya. Mama cuma berkata ”Kamu tahu nak, Papa kamu tidak naik-naik pangkatnya karena untuk naik pangkat mesti bayar 25 juta. Papa mikir daripada buat bayar kenaikan pangkat mendingan buat sekolah anak-anak. Soalnya takut kalau jadi naik pangkat, yang dipikirkan adalah gimana cara balik modal.” Sempet bilang mama kalo gue kagak percaya. Eh, doi malah bilang itu kenyataannya. Mama mengajar les Inggris home industry gitu – maksudnya itu kursus dari jaman Opa almarhum lalu mama melanjutkan. Mengandalkan gaji PNS papa aja mana cukup, gitu mama suka bilang.
Oke. Padahal ada begitu banyak buku TIPS SUKSES CPNS. Coba aja ke toko buku cari. Tapi rasanya ada sesuatu yang salah dengan menjadi PNS. Terlepas apa benar cerita mama tentang mau naik pangkat mesti bayar uang dulu. Kok kayaknya jadi PNS itu makan gaji buta? Papa engga pernah cerita tapi, kenapa ya? Apa takut anaknya engga mau jadi PNS? Oia, sedikit informasi tambahan. Kata mama tergantung jadi PNS apa dulu. Kalau seperti adek sepupu mbah gue yang jadi PNS di Pertamina, ya iya aja gitu gajinya lebih gede daripada babeh gue.
Ganti gaya. Papa bilang gue kudu udah mikir nanti ke dapannya hidup gue gimana? Mama akhirnya bilang gue ikutan AKTA 4 jadi bisa melamar kerja jadi guru. Die lagi. Mama ya ALLAH?! Jadi guru itu sengsara. Papa bilang jadi guru ilmu eksak bagus juga, sebab bisa kasih les ke murid-murid dan dapat tambahan penghasilan. Nah, kan! Yang model gini ini. Gue juga ngalamin dulu belajar di sekolah tidak mengerti, entah kenapa waktu les jadi ngerti dan ulangan bisa. Tapi kadang ada juga yang memang pada dasarnya gue bego, jadi tetep engga bisa. Dan semakin bikin gue serem pas baca koran Kompas edisi Selasa 13 Maret 2007 di bagian Humaniora. Judul tulisannya adalah ”Ada Insentif bagi Guru di Daerah Terpencil”. Di bagian ”Berbagai Kendala” ada tulisan ”Masalah lainnya adalah belum adanya penghargaan yang memadai bagi guru yang mengajar di daerah khusus dan terpencil.” Ini lagi urusannya, bikin gue merasa makin sengsara. Gue kuliah aja modal mama ama papa gede banget. Lah gue pengen kerja yang bisa balikin modal emak babeh gue dong?! Ceritanya, lagi-lagi mencoba menjadi anak berbakti dan bermoral kepada kedua orangtuanya.
Sekarang tentang moral. Di berita Metro TV – News Metro TV – pada Selasa, 13 Maret 2007, ada berita kasus sidang Pemimpin Redaksi Majalah Playboy Indonesia. Si Pemred bernama Erwin apa gitu entah panjangannya, kena hukuman penjara 2 tahun. Kata berita, itu tuduhan terhadap si Pemred Playboy adalah karena dia sudah merusak moral bangsa, dan itu menurut katanya para Front Pembela Islam. Jadi moral itu adalah berbaju tertutup tetapi dengan PEMIKIRAN yang juga TERTUTUP? Padahal lumayan juga tuh kayaknya buka usaha baru majalah Playboy Indonesia, bisa menyerap tenaga kerja bukan?





.

majalah PLAYGIRL Indonesia - HAHAHA !!!

pastinya... ADA dalam web akuh... dududu...

Ada apa ini gue, sok tau banget. Gue cuma tiba-tiba ingat penggalan cerita dalam novel Ayat-Ayat Cinta. Dalam Harian Merdeka edisi Selasa 13 Maret 2007, ada berita di Rubrik Bibir Mer kalau itu novel akan di-film-kan dengan Rianti Cartwright memerankan karakter Maria si Penganut Kristen Koptik. Tokoh Maria ini selalu berpakaian tertutup dan baik terhadap sesama manusia tanpa membedakan agama, tapi tidak mengenakan jilbab karena dia bukan Muslim. Dan si tokoh laki-laki sholeh yang taat dalam novel Ayat-Ayat Cinta ini berkomentar bahwa, begitu banyak kyai dan orang-orang yang mendalami agama di Indonesia tetapi merasa dirinya sudah berkontribusi pada permasalahan umat dengan tekun membaca Kitab Kuning sementara para santrinya disuruh berjualan kalender untuk AD/ART pesantren. Masih di koran Kompas edisi Selasa 13 Maret 2007 bagian Humaniora dalam Kecakapan Hidup, gue kutip kalimatnya “Kurikulum Paket A dan Paket B, yang termasuk di dalamnya bagaimana menambah wawasan sains bagi santri dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi, sebetulnya sejalan dengan misi pesantren selama ini yaitu kemandirian yang berbasis bidang pertanian dan pengelolaan potensi alam serta lingkungan sekitarnya dan menekankan pada pendidikan agama.” Itu baru sebab akibat. Islam mengajarkan umatnya untuk berusaha dan berdoa. Berusaha duru baru berpasrah diri pada Sang Pencipta.
Apa kabar gue? Gimana cara cari kerja yang bisa kasih duit sesuai? Kenapa duit? Duit bisa kasih gue makan dan hidup. Jadi bukan tuhan? Ya ALLAH tolong. Bukan itu maksudnya. Ya Allah Ya Tuhanku. Jika hamba bahkan kurang pandai untuk mendapatkan nilai bagus, setidaknya semoga hamba memiliki moral yang cukup baik. Tapi apakah moral baik mendukung untuk mencari kerja? Jadi PNS seperti papa? Jadi guru? Kalau dapat tugas di daerah terpencil? Jadi sebatas itu kepedulian gue terhadap masyarakat? Katanya lepas dari mahasiswa berarti menghadapi realita kehidupan bermasyarakat yang sesungguhnya. Buka bisnis haram? Apanya yang haram? Entah. Hidup gue mau jadi apa kalau begini caranya. Tobat gue?!!!
Protes pada Pemerintah Indonesia

Kamis dini hari, 7 Desember 2006

Pemerintah selama ini ngapain aja sih? Mungkin itu pertanyaan saya yang paling pribadi berkenaan dengan hasil obrolan saya dengan orang-orang – salah seorang dari “orang-orang” yang saya maksud adalah orang yang saya cintai yaitu ayah saya.
Bermula dari ketika saya membaca Editorial Media Indonesia, Rabu 5 Desember 2006 berjudul “Pelit untuk Guru dan Boros untuk Politik”. Lantas berlanjut pada Galeri Pendapat Media Indonesia, Rabu 5 Desember 2006 tentang pro dan kontra poligami, juga pro dan kontra tentang pemerintah yang ingin turut campur mengurusi poligami.
Saya pernah bercakap-cakap dengan ayah saya. Ketika itu kami sama-sama membahas berita di televisi. Dan muncul sebuah pertanyaan dari mulut saya : “Papa, kenapa orang-orang di DPR atau MPR atau apapun lah para pejabat pemerintah itu justru mendapat gaji yang besar. Dan lagi kenapa jika memang sudah ada fasilitas yang sedemikian enaknya, masih juga mereka (pejabat dkk) tampak belum mewujudkan kesejahteraan masyarakat yang adil dan merata? Bukankah mereka adalah “PEMBANTU” masyarakat? Lantas kenapa masih banyak orang di sekitar sana yang belum menerima perlakuan layaknya majikan – dibantu, dibela, dan didengar? ”
Kemudian ayah saya hanya menjawab “Idealnya memang begitu, karena dengan gaji dan fasilitas tersebut diharapkan pemerintah dapat lebih perhatian lagi pada rakyatnya. Namun kembali lagi, para pejabat itu sebagaimana kita hanyalah manusia biasa. Mungkin pada saat mereka belum memiliki posisi apa pun mereka dengan begitu antusiasnya berkata akan melakukan sesuatu terhadap masyarakat. Dan ketika posisi itu telah di tangan, mereka lupa dengan tujuan semula. Manusia pada dasarnya tempatnya khilaf.”
Saya hanya tersenyum miris mendengarnya. Memang manusia tempatnya khilaf, tetapi adalah menjadi zholim ketika LUPA tersebut justru merugikan orang banyak.
Saya pernah baca, bahwa politik pada dasarnya adalah “Seni untuk Mendapatkan Sesuatu”. Seni. Ya, seni. Dan sebagaimana umumnya seni, bagus tidaknya bergantung pada interpretasi masing-masing.
Kembali pada topik pertama dari hasil bacaan saya di koran, mengapakah pendidikan menjadi prioritas kesekian – jika tidak mau dibilang yang terakhir – sementara untuk kepentingan lain yang di luar kesejahteraan masyarakat justru seolah menjadi perhatian utama?
Untuk topik kedua yang saya baca lagi-lagi dari koran itu yaitu terutama tentang pro dan kontra pentingnya pemerintah ikut mengatur poligami – terutama dikatakan Kepala Negara negeri ini tidak seharusnya meributkan poligami dan bahkan mengatakan kontra dengan mencontohkan keluarga beliau yang ideal.
Saya rasa ini semua juga bermulanya dari pro dan kontra UU Anti Pornografi dan Pornoaksi. Mengapa pula pemerintah bukannya mengurusi hal-hal yang sifatnya lebih pada kesejahteraan masyarakat? Tetapi saya jadi tersenyum dengan mimik mengejek ketika membaca lagi-lagi di media massa (“Tim Golkar Selidiki Rekaman Mesum Anggotanya” – Koran Tempo, A4; Sabtu, 2 Desember 2006), tentang kasus adegan vulgar kader Partai Golongan Karya. “Ngurusin orang lain, kayak sendirinya bener aja” – begitu lah kurang lebih arti senyuman saya membaca berita tersebut.
Adalah perbuatan yang kurang perlu untuk bicara tentang moral pada mulut-mulut lapar – yang selain lapar perut juga lapar akan ilmu. Ilmu apa pun, ilmu duniawi dan ilmu akhirat. Mengapa tidak diselesaikan dulu infrastruktur di setiap pelosok negeri ini yang masih timpang. Jangan disalahkan pernyataan “Kegiatan masyarakat berpusat di pulau Jawa” – karena memang pembangunan di negeri ini belum merata.
Jika memang anak adalah generasi penerus bangsa, apa yang bisa diharapkan dengan fasilitas pendidikan yang kurang memadai di negeri ini? Apa pun bentuk pendidikan itu – formal dan informal, umum dan agama.
Dan bicara tentang pendidikan, keluarga adalah sumber pendidikan anak yang pertama. Poligami yang selama ini saya ketahui masih berpusat pada pro dan kontra dari sisi wanita sebagai sang istri dan pria sebagai sang suami. Tampaknya anak tidak menjadi pertimbangan tersendiri.
Jika salah satu alasan berpoligami adalah karena tidak jua memiliki anak, mengapa tidak melakukan cara lain untuk memiliki anak? Adopsi misalnya. Menjadi orang tua asuh untuk anak-anak terlantar. Anak bukan cuma hasil buah cinta suami dan istri. Mereka yang masih balita dan usia sekolah (usia wajib belajar – sebagaimana dikatakan oleh pemerintah) juga adalah anak. Mengenai kedekatan psikologis untuk pernyataan “Punya anak kandung kan beda dengan mengadopsi anak” saya pikir tergantung definisi masing-masing tentang orang tua. Saya berkata “saya pikir” dan bukan “saya kira” karena itu semua adalah pemikiran saya dengan memposisikan diri sebagai seorang anak dan dalam usaha saya untuk mengembangkan sifat empati saya terhadap anak-anak lain di berbagai sudut negeri ini yang saya yakin masih banyak yang kurang beruntung dibandingkan saya.
Oke, saya rasa tidaklah seimbang jika saya hanya menyalahkan pemerintah. Mengapa masyarakat sendiri tidak mengembangkan diri untuk menjadi lebih kritis? Terutama mengapa sebagian orang yang lebih cerdas dan lebih memiliki kuasa dalam turut membawa penghidupan yang lebih baik di masyarakat masih cenderung apatis seolah berkata bahwa “itu bukan urusan saya”?
Betapa keadaan ideal itu sesungguhnya sulit didapat. Tetapi apa yang sulit itu belum tentu mustahil bukan? Semua kembali pada diri sendiri – ingin ikut serta menjadi “rahmatan lil alamin – rahmat bagi semesta” atau cuma menjadi hasil karya Tuhan yang tidak berkembang, baik berkembang dari segi pemikiran maupun dalam kehidupan sosial karena manusia pada hakikatnya adalah makhluk sosial?

Herlinda Putri – mahasiswa FMIPA jurusan KIMIA UNPAD.
Ini Berita Baru, Baru Berita Ini


Buat yang mencari seorang Herlinda Putri yang entah biasa dipanggil apa pun (banyak banget nama panggilan dia), dengan ini diumumkan bahwa:

1. Mentalnya sedang terganggu
2. Keuangannya tidak stabil
3. Kehidupannya penuh lika-liku
4. Kuliahnya belum selesai
5. Tugas Akhir-nya MASIH BELUM SELESAI


oleh sebab itu maka dianjurkan bagi kalian semua:

1. Tolong dirinya dihibur

2. Tolong sedekahkan sebagian rezekimu padanya misal Handphon, Flash Disk, iPod, kamera digital, seperangkat instrumen MSB dan TGA, juga bisa berupa cash uang tunai atawa cek DSB

3. Tolong dengan hormat, hati-hati kalau mau menemui dirinya. harap hubungi dia
dulu by the phone. cari aja ke nomer simpati cantik dia yang biasa atawa ke
XPLOR dia yang tagihannya membengkak

4. Tolong, jika ada pekerjaan yang TIDAK BUTUH PENGETAHUAN BANYAK DAN BISA
DILAKUKAN OLEH PENDERITA GANGGUAN MENTAL, bisa dikasihkan lewat saya untuk saya berikan padanya. Mengingat kemampuan otaknya sangat terbatas.

5. TOLONG, DIMOHON DOANYA DARI KALIAN semua. apalagi yang punya orangtua dosen dan JADI DOSEN si Herlinda Putri... MOHON DOA KALIAN SEMUA untuk dia yang sedang menderita ini



Terimakasih.

Demikian fatwa ini diumumkan harap
menjadi perhatian untuk disimak dan dikaji.

Hadirin dipersilakan duduk kembali.

Friday, 16 March 2007

Kebebasan Pers VS Kebebasan Berkreasi di Gedung D5 ?!!

"tau gak sehhhh. jadi katanya heni dia tuh strezz gara 2 sampel dy ketinggalan di malaysia dan dia engga punya back up lagi itu data. alhasil dy suruh kerja lagi deh. jadi gimana kalu elu say helo ama dy sesekali. lah, gue bilang juga apa. engga usah bicara kebebasan pers. kenyataannya, gue dan teman2 kimia sepakat bahwa KIMIA = PENJARA terhadap kreativitas dan pemikiran..."

kutipan kalimat di atas berasal dari hasil chat gue ke seorang teman lama yang sangat akrab. si teman ini biasa gue panggil : ibu bawel.

yupz. si ibu bawel ini kuliah di jurnalistik dan sering banget beropini bahwa sudah seharusnya era reformasi ini jadi saat untuk kebebasan bagi seeseorang dalam berpendapat. tapi tentunya dengan disertai dengan tanggung jawab.

nah, hal ini tidak berlaku di jurusan gue, kimia di suatu perguruan tinggi negeri di jatinangor. nama gedung kuliah itu adalah Gedung-D5. entah juga sih, ini memang MURNI PENDAPAT PRIBADI. kebebasan itu tidak berlaku di kampus kimia gue. istilah seorang teman lain yang suka gue panggil dengan nama summy adalah : Kimia = JEPRUTZ.

ilmu kimia, sebagaimana ilmu -ilmu lain yang sebaiknya dipelajari manusia itu MEMANG BERMANFAAT. yang bikin kimia engga bangeud adalah sistem dan pelaksanaan. bagian mana? yah, secara tadi abis nge-gosip ama anak2 tentang DOSEN2 kimia yang engga bangeud. tapi 1 hal. gue seneng dengan dosen fisika-statistik, dosen pemisahan bagian fasa, dosen spektroskopi, dosen bioanorganik, dan dosen pengajar ibu bawel di jurnalistik sono yang ngajar dasar-dasar penulisan. mereka memiliki ilmunya TAPI MEREKA TIDAK MENUTUP DIRI TERHADAP PERUBAHAN dan ILMU LAIN DI LUAR YANG MEREKA KUASAI. dan dosen2 yang gue kagumi itu berusaha menularkan pemikirannya ke para mahasiswa. yang sialnya, kayaknya baru gue yang ketularan. gue engga bilang nyekokin, coz gue engga MERASA DICEKOKIN.


sudahlah, biarkan KIMIA di kampus jatinangor menjadi misteri. dan biar pula ocehan gue dianggap sebagai ASAS PRADUGA MENUJU GOSIP. ini kan era reformasi. saatnya BERANI BERBICARA DAN BERPENDAPAT, TENTUNYA DENGAN TANGGUNG JAWAB...


wallahu alam bi ash-shawab... segala kebenaran hanya milik Allah, manusia adalah tempatnya salah.

Thursday, 8 March 2007

Bacalah tanpa DOSA dua hal di bawah ini:

1. Kamu tidak Ganteng ataupun CANTIK karena SAYA tidak CANTIK.
2. Kamu PINTAR dan sudah LULUS dan SAYA TIDAK PINTAR dan bahkan semua bilang saya LALIEUR (sebenernya hiperbol dan diperbuas sih KARENA KENYATAANNYA SAYA PINTAR - pintar BERDALIH DAN KELUAR DARI KESULITAN, hahaha).

TAPI adalah 1 HAL : ide untuk MEMBUAT yang PINTAR dan CANTIK-GANTENG serta TAJIR se-alaihim BISA BERADA DI BAWAH KAKI SAYA. BAGAIMANA BISA? membaca saja aku sulit. once in ur LIFE, go get THE IMMPOSSIBLE THING...dan JIKA DAN HANYA JIKA kamu masuk golongan PINTAR juga atau CANTIK-GANTENG dan serta atau TAJIRRUN se-amit2, maka bersiaplah untuk berada di bawah kakiku!

PS : jangan ngintip tapi ya?! GYAHAHA!


Gw ENGGA CANTIK DAN GW ENGGA PINTER tapi prinsip, TEUTEUP KUDU SOMBONG...


Once in My LIfe I'LL go GET it !!!


How To Make Those People Being UNDER MY TERRITORRY - MEMBUAT MEREKA SEMUA TUNDUK DI BAWAH KAKIKU...
Budaya Membaca dan Koran

Herlinda Putri – Kimia UNPAD

‘Tulisan ini didedikasikan untuk tetangga sebelah kamar gue yang kuliah di jurusan jurnalistik UNPAD dan sering berbuat hal-hal sinting barengan gue atau sendiri kayak gue juga. Bukan semata-mata gue dan dia beda jurusan kuliah, tapi karena dia kasih gue inspirasi untuk melakukan lebih dari apa yang bisa gue kerjakan. Dan kegiatan membaca dan menulis adalah alternatif kegiatan yang bermanfaat. Ibu Bawel, I wrote this for you! Terima kasih karena kasih pinjam gue buku-buku elu yang se-alaihim banyaknya (se-alaihim means banyak banget – penulis), padahal elu sendiri ngaku kalo tu buku belum semuanya selesai elu baca.’

.

DueT anak AUTIS lagi jadi anak iLang di BRAGA


inihlah kamih,,, oh... ratapan anak tiri dalam damri...

Gue tuh pernah baca di buku pinjaman teman. Teman gue itu biasa gue panggil si ibu bawel, karena dia bawel dan sering banget ngomentarin gue. Si ibu bawel sering komentar bahwa tulisan gue kadang engga jelas, marah-marah teu puguh kalo dalam bahasa Sunda mah. Atau curhat engga penting. Padahal engga penting juga sih dia ngerti apa yang gue curhatin. Jadi dia dengan senang hati mengizinkan gue baca-baca buku-buku dia yang berbau jurnalistik. Dan mendukung gue untuk menulis dengan lebih baik. Ya iya lah, lha wong dia anak jurnalistik. Terus dia juga sewot karena gue kagak becus motoin dia. Dia protes karena foto-foto gue pada bagus-bagus dan itu adalah hasil karya dia. Nah giliran dia yang gue foto, hasilnya banyak yang amburadul. Tapi gue seneng. Ama dia gitu. Karena walaupun bawel, dia ada gunanya banget.
Kembali ke topik semula. Apa kaitan antara budaya membaca dan koran? Si penulis buku yang gue pinjam dari Ibu Bawel itu namanya Nurudin. Buku yang dia tulis berjudul ”Menulis Artikel itu Gampang”. Dia yaitu Mas atau Pak Nurudin bilang bahwa koran itu macam-macam jenisnya. Yang gue inget cuma dua. Kalau Republika itu lebih banyak memuat berita Islami, sedangkan Kompas lebih seimbang. Istilahnya mah dia alias si Koran Kompas ini tidak berpihak pada satu sudut pandang tertentu. Kaitannya adalah, Mas atau Pak Nurudin ini menulis bahwa sebaiknya banyak membaca berbagai jenis koran agar pola berpikir tidak menjurus pada aliran tertentu saja. Misalnya sering baca Tabloid Tarbawi (eh, ngomong-ngomong itu jenis tabloid atau bukan ya?) jadi “keras” atau kalau menurut gue sering baca majalah kosmopolitan ya pikirannya jadi ikutan kosmo. Dan gue? Gue baca apapun, tapi kalau bahan-bahan kuliah Kimia sialnya sering terlewatkan dan dilewatkan untuk dibaca karena lebih sering bikin pusing.
Oh, belum dijawab ya kaitannya? Jadi, menurut gue membaca koran itu bagus dan lebih bagus lagi kalau tidak fanatik terhadap koran tertentu. Karena gue sendiri ngerasa. Dulu gue suka bilang kalau kompas itu koran yang bikin puyeng, tapi akhir-akhir ini gue baru sadar kalau kompas itu bagus juga. Dari segi penuliasn dan berita yang disajikan. Walau bukan pakar koran, tapi gue berani komentar begitu sebab gue merasa menikmati membaca Kompas. Dan Koran Sindo, gue juga baru ngeh kalau ternyata lucu juga ni koran. Enak buat dibaca. Kue kalle enak? Gabungan tabloid infotainment yang biasanya sih kalo gue bilang tuh gossip abis. Biasa lah artis. Tapi ada beritanya juga. Dan bahkan Sindo pun memberi ruang bebas berkreasi untuk para penulis pemula.
Nah kalau begitu, baca koran itu aktivitas membaca kan? Terus korelasi koran dengan budaya baca? Yaitu tadi, kalo udah suka membaca meluangkan sedikit waktu untuk membaca koran itu bukan masalah. Seperti kata iklan layanan masyarakat Bang Tantowi Yahya. Orang pintar akan lebih banyak membaca. Engga gitu juga sih ngomongnya, tapi setidaknya kalo gue simpulkan sendiri mah ya begitu itu. Karena sudah rahasia umum bahwa budaya baca di Indonesia masih rendah. Budaya masyarakat Indonesia adalah melihat (televisi) dan mendengar (radio). Ini pernyataan pun gue dengar dari entah.
Dan mengenai diri gue pribadi itu apa? Gue akan membudayakan diri gue sendiri untuk membaca buku-buku tentang Kimia, gue kan kuliahnya di Kimia. Karena pada dasarnya kegiatan membaca adalah hal yang baik untuk dikembangkan. Tapi ya engga maksa diri sendiri juga sih. Kalo gue lebih pengen baca koran daripada baca hand-book? Gue lewatin aja deh tuh hand-book. Kalo gue lagi in the mood baca tabloid gosip, itu juga engga masalah. Dan yang lebih cerdas lagi adalah gue engga akan mempermasalahkan bacaan gue tentang seni merawat tanaman hidroponik dan bukannya mbaca diktat kormatografi kolom yang membosankan. Tidak masalah dengan apa bacaan kita. Karena bukan suatu keharusan bahwa seorang profesor tidak boleh membaca majalah komik Donal Bebek dan seorang kuli sopir truk tidak layak membaca koran. Atau bahkan yang ekstrim adalah membaca bacaan ”dewasa” untuk mereka yang ternyata belum ”dewasa”. Yang penting adalah kita bisa mencerna apa yang kita baca. Bagian pentingnya kita ambil. Yang salah kita cari kebenarannya seperti apa.
Kesimpulan gue pribadi adalah, membaca koran bukan cuma aktivitas bapak-bapak yang ditemani dengan rokok dan kopi. Dan koran berisi bermacam peristiwa. Ada yang peristiwa harian atau info tertentu pada waktu tertentu. Karena koran berisi berbagai macam berita, maka menurut gue membaca koran baguis untuk mengembangakn budaya baca. Kalo orang itu bosenan, dengan baca koran dia bisa pilih bagian mana yang mau dia baca. Berat di ongkos dong? Nah, kreatiflah kamu. Numpang baca aja. Pinjem kek. Kalo engga di kantor mana gitu misalnya di ruang tata usaha kampus suka ada langganan koran, atau di kosan pada patungan langganan koran. Irit kan? Membaca tidak perlu boros untuk membeli bahan bacaan. Seperti kalimat favorit Ibu Bawel ke gue ”Put, elu mah suka ngaco. Baca koran gue yang edisi kemaren?”, dan gue akan menjawab ”Engga masalah Bu Bawel. Yang penting gue dapat informasinya. Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali kan?”

Monday, 5 March 2007

ALASAN MENJADI AUTIS

Yang saya ketahui autis adalah suatu penyakit mental. Dan saya sering berkata bahwa autis saya kumat. Namun, saya tidak bermaksud untuk menghina mereka yang menderita penyakit tersebut. Karena bagi saya pribadi, autis adalah salah satu bentuk refleksi diri. Yaitu ketika saya sedang menyendiri dan tidak ingin diganggu dengan aktvitas dan opini orang lain. Orang lain di sini antara lain orang-orang di lingkungan yang saya kenal (rekan-rekan) atau bahkan orang-orang yang tidak di kenal. Saat sendiri ini adalah waktu yang paling pribadi bagi saya. Ketika saya berkencan dengan diri saya sendiri.
Mungkin terdengar aneh. Akan tetapi saya yakin setiap dari kita membutuhkan waktu bagi dirinya sendiri tanpa gangguan dari siapa pun. Kenapa siapa pun? Karena orang-orang di sekitar kita terkadang memiliki kecenderungan untuk mempengaruhi. Bahkan kalau pun tdak sampai ekstrim untuk mengompori, hanya dengan berkomentar pun sudah cukup mengusik diri. Mengusik diri di saat autis kita sedang kambuh.
Dalam buku ”Menulis Artikel itu Gampang” karangan Nurudin, ada sebuah contoh artikel tentang autisme yang diambil dari harian Republika, 8 September 1999. Penulisnya adalah Nurudin, seorang staf pengajar Fisip di Universitas Muhammadiyah Malang. Artikel tersebut berjudul ’Ancaman Orang-orang Autistis’. Paragraf yang saya kutip adalah sebagai berikut.
”Autisme berasal dari bahasa Yunani autos artinya ‘diri sendiri’. Dengan kata lain, ia merupakan suatu keadaan atau pendirian/sikap hidup di mana orang terserap oleh gagasan, pemikiran, pendirian, kehendak dan gaya hidupnya sendiri, sampai tidak mementingkan sesama, masyarakat, dan keadaan sekitarnya (Mangunharjana, 1997).”
Penggalan paragraf yang saya kutip adalah definisi autis ditinjau dari ilmu filsafat. Adapun autistis dalam artikel itu dipakai untuk menyebut orang yang mempunyai sikap/pendirian, tingkah laku autisme.
Saya sendiri adalah salah seorang penderita autis dalam definisi ilmu filsafat (autis dalam arti ”semau gue”). Oleh karena itu, saya akan mengutip kembali artikel Nurudin yang menerangkan nilai positif dari autisme.
Pertama, autisme bisa menunjukkan yang bermental massal, asal selamat, rubuh-rubuh gedang (ikut-ikutan), dan kehidupan yang sangat ’tergantung’. Kedua, autisme bisa menjadi simbol perlawanan untuk kekuasaan yang absolut dan tanpa kontrol secara efektif. Di tengah kekuasaan yang otoriter, ia muncul sebagai seorang pahlawan yang selalu dinantikan kehadirannya.”
Tidak ada yang salah dengan menjadi berbeda dari orang lain. Tidak juga salah dengan menjadi seorang autistis. Tidak massal. Bukan barang kodian. Tetapi tentunya tetap harus menghargai norma yang ada dan tanpa perlu memaksakan kehendak.
Saya bukan bermaksud menjadi pahlawan yang muncul mendadak. Saya cuma menginginkan satu hal, kebebasan. Ketika sedang sendiri saat autis saya kambuh, saya bisa bebas menentukan 5 W dan 1 H terhadap diri saya sendiri tanpa direcoki dengan pendapat-pendapat orang lain. 5 W ini terdiri dari What (Apa), Who (Siapa) When (Kapan), Why (Mengapa), Which (Yang Mana), dan 1 H berupa How (Bagaimana). Karena saya yakin bahwa tidak ada orang yang mengenal diri saya sebaik diri saya sendiri.

Herlinda Putri – Kimia UNPAD

Thursday, 1 March 2007

BAHAYAKAH KALSIUM BERLEBIH?

Selama ini, penyakit batu ginjal seringkali diidentikkan dengan ‘penyakit laki-laki’. Meski kebanyakan pasien memang berasal dari kaum Adam, bukan berarti kaum Hawa terbebas dari risiko terserang batu ginjal. Sebuah penelitian melaporkan, lima dari setiap seratus wanita menderita penyakit ini.(hanyawanita_com - Health & Sex - Health - Cara Kalsium Mengusir Batu Ginjal.htm)
Batu ginjal yang dalam bentuk aslinya merupakan kalsium yang mengkristal, konon terbentuk akibat kelebihan kalsium. Itu menurut situs di awal tulisan ini. Benarkah demikian?
Komposisi yang terdapat dalam batu ginjal tergantung pada kadar kimia dalam urin. Ada empat macam komposisi kimia dominan dalam batu ginjal yaitu kalsium, asam urat, struvite, dan cystine.
Batu ginjal terbentuk di dalam urin karena kadar kalsium yang tinggi disebut hypercalciuria. Sedangkan untuk kadar oksalat yang tinggi disebut hyperoxaluria. Asam urat yang tinggi dan kekurangan sitrat di dalam urin, apalagi kekurangan air di dalam ginjal untuk melarutkan sisa-sisa metabolisme adalah penyebab terbentuknya batu ginjal. Jika ginjal kekurangan kadar air, akan terjadi dehidrasi yang menyebabkan komponen kalsium, oksalat, atau asam urat tak terlarutkan dan terbentuk kristal batu ginjal secara perlahan.
Urin secara normal mengandung sitrat, magnesium, pirofosfat yang dapat mencegah terbentuknya kristal. Kadar inhibitor yang rendah tersebutlah yang dapat menyebabkan pembentukan batu ginjal.
Batu ginjal yang mengandung kalsium kira-kira ada 85%. Batu kalsium dapat berupa kalsium oksalat atau kalsium fosfat. Kalsium oksalat lebih dominan, yang terjadi karena kadar kalsium berlebih dalam tubuh yang bersenyawa dengan oksalat. Sedangkan kalsium fosfat terjadi pada pasien yang mengalami gangguan hormonal seperti hyperparathyroidism (kelebihan kadar hormon) dan renal tubular acidosis (merupakan penyakit turunan di mana ginjal tak dapat mengekresi asam, di sini menghambat kerja sitrat dalam urin).
(http://www.urologychannel.com/kidneystones/index.shtml)
Namun, selama ini para wanita – khususnya yang telah berusia di atas 30 tahun – sangat dianjurkan untuk mencukupi tubuhnya dengan kalsium. Baik dengan cara menelan suplemen kalsium atau mencukupi kebutuhan lewat intake makanan. Dengan tercukupinya kebutuhan kalsium, maka para wanita usia 30-an yang produksi estrogennya mulai menurun, akan terhindar dari osteoporosis (pengeroposan tulang).
Jangan khawatir dulu. Penelitian terbaru yang dilakukan oleh David McCarron, M.D, dari Oregon Health Sciences University di Portland tidak 100% membenarkan pernyataan di atas. Susu yang mengandung banyak kalsium atau suplemen kalsium tidak dipersalahkan sebagai penyebab munculnya batu di ginjal. Jika dimakan dalam jumlah yang dibutuhkan (kira-kira 1000 mg per hari), kalsium malah dapat mengurangi kemampuan tubuh untuk menyerap zat yang bernama oxalate (sebuah zat yang turut ‘membangun’ batu ginjal – berupa kalsium oksalat). Makin sedikit kadar oxalate dalam tubuh, maka makin kecil pula seseorang menderita batu ginjal.
(hanyawanita_com - Health & Sex - Health - Cara Kalsium Mengusir Batu Ginjal.htm)
Kalau begitu, mana yang benar? Kelebihan atau kekurangan kalsium?
Jangan terburu-buru percaya bahwa kalsium dapat mencegah batu ginjal. Ada satu hal yang perlu diperhatikan sebelum menelan suplemen kalsium. Jika kalsium tersebut masuk ke dalam tubuh dengan cara yang salah, maka malah akan dapat menyebabkan timbulnya penyakit batu ginjal. Jangan sesekali menelan sebutir suplemen kalsium dalam keadaan perut kosong. Pastikan Anda minum kalsium, disertai dengan makanan. Dengan demikian, barulah kalsium dapat diserap oleh tubuh secara efektif. (hanyawanita_com - Health & Sex - Health - Cara Kalsium Mengusir Batu Ginjal.htm)
Pada dasarnya segala sesuatu yang berlebihan pastilah menimbulkan efek tidak baik. Pun halnya dengan kekurangan. Idealnya, jika sudah minum susu tinggi kalsium ya tidak perlu lagi suplemen kalsium. Atau seharusnya tidak perlu ada produsen yang memproduksi suplemen kalsium yang katanya setara dengan lebih dari 1000 mg. Yang jelas, 1 hal sudah pasti. Minum cukup air untuk meringankan kerja ginjal karena air merupakan pelarut paling baik sehingga ginjal tidak ‘penuh’ dengan kristal-kristal yang tidak terlarut dan bisa dibuang lewat urine.Bijaklah terhadap tubuh sendiri dan kritislah terhadap informasi yang berbau promosi (iklan).